Posted by: Penulis on: April 11, 2008

mungkin bahasan ini udah basi bagi sebagian orang. tapi bagi yang baru menemukan jalan ini, rasanya menarik untuk disharing. tak ada kata terlambat karena semuanya punya alur hidup yg berbeda. termasuk aku.
udah banyak orang mengatakan bahwa sebenarnya kebahagiaan itu ada dalam diri kita. tapi nyatanya masih banyak orang termasuk saya sendiri yang masih menggantungkan kebahagiaan berdasarkan sesuatu yang diluar sana atau segala sesuatu yang berdasarkan kebendaan. merasa akan bahagia bila ‘mempunyai’ sesuatu atau kebahagiaan akan datang kala seseorang menjadi ‘milikku’.
nyatanya, namanya juga kehidupan. kadang harapan tak selalu sinergi dengan kenyataan. tatkala berbuah kekecewaan rasanya sakit banget. dan itu membuat aku ga bahagia. kenapa sih kok gajiku cuman segini doang sementara temen-temen deketku pada gede? ato kenapa sih jalan hidupku tidak mengantarkan dia menjadi pendampingku untuk selamanya? sungguh jadinya hidupku jauh dari bahagia.
begitulah padahal kalo difikirkan yang dalam sebenarnya kebahagiaan terletak pada bagaimana kita merespon situasi-situasi tadi. respon itu sendiri sangat tergantung dari pola fikir seseorang. karenanya, jangan sampai deh otak kita kekurangan referensi yang dibutuhkan untuk menghadapi persolan hidup seperti ini. kalo ngga bisa bahaya. rasa bahagia bisa dibuat sendiri.
caranya, kembalilah melakukan perjalanan ke dalam diri kita sendiri. analoginya jangan sampai kayak cerita sang ikan. begini, sang ikan sudah lama merasa kesusahan mencari yang namanya samudera. dimana samudera itu? kata sang ikan. ikan lain menjawab loh tempat kamu berada inilah yang namanya samudera. sang ikan tadi tidak percaya dia terus meneruskan perjalanannya untuk mencari samudera. see?? yakin deh sampai ikan itu pada akhirnya mati pun samudera ga bakal dia temukan. demikian juga dengan kita, pada akhirnya waktu akan terus berjalan sementara kita sendiri ga tau sampai kapan hidup. jadi sayang juga kalo selama hidup kita tidak pernah belajar untuk merasa bahagia dengan diri kita sendiri, dengan apa yang sudah dikasih Allah sama kita.
kadang kepedihan, perasaan sakit hati itu lebih memberi banyak pelajaran hidup buat aku. ketimbang terlena dengan kesenangan. berat sih memang, ini pun tidak berarti saya sudah melewati fase itu tapi setidaknya mulai merasa ‘tersadar’ dan yakin bahwa hidupku insya allah ingin dilewati dengan baik. karena ternyata, hal-hal yang kadang kita risaukan, sesalkan, sampai pada akhirnya merasa frustasi dan putus asa. itu hanyalah persoalan-persoalan yang sepele. beneran deh, semua hal itu sepele dibandingkan dengan apa yang ada dalam diri kita. benarlah orang bijak bilang bahwa kita sebenarnya adalah makhluk spiritual yang mengalami pengalaman-pengalaman fisikal. bukan sebaliknya.
to be continue…