Posted by: Penulis on: Januari 22, 2009
Kalo disinetron, seringkali kita lihat adanya episode dimana seseorang menindas orang lain. Entah itu karena iri, dengki, serakah, dan unsur penyakit hati lainnya. Pada level atas, seringkali juga bahkan saat ini betapa satu kaum tega menindas kaum yang lain. Entah itu karena serakah, iri, dengki, atau hal lainnya tentu pada level yang lebih tinggi. Padahal, keduanya sama-sama manusia. Bila salah satunya godzilla atau vampire, mungkin dapat dimaklum. Bayangkan, sama-sama punya fisiologi tubuh yang sama, sistem pencernaan dan indra yang sama. Apakah mereka tidak pernah berfikir, bagaimana bila hal itu terjadi pada mereka sendiri? Rasanya akumendpat kegilaan sendiri, bila terus berfikir mengenai hal itu. Tapi setidaknya aku dapat mendapat kesimpulan bahwa, mereka yang menindas seperti itu, mempunyai intensitas kedengkian dan keserakahan yang sangat tinggi. Aku yakin, mereka menindas karena iri, iri melihat kaum palestin. Juga serakah, menginigini apa yg palestin punya. Bagi kaum palestin sendiri, hendaknya itu jadi poin unggul bahwa, betapa si kaum penindas memunyai banyak hal tp mereka tetaplah miskin. Dan mereka sangat ketakutan. Mereka si kaum penindas adalah kelompok miskin dan ketakutan. Dan yang jelas mereka bodoh. Pertama, mereka miskin atas keserakahan yang membabi buta. Dunia bagi mereka adalah segalanya, yg tak habis pikir. Bila pun seluruh daratan di planet bumi ini dimiliki si penindas alias israel. So, what next? Mereka yakin itu yg membuat mereka bahagia? Apa sih yang mereka ingini? Hanya anak kecil yang belum mengerti apa-apa yang masih belum bisa menerima perbedaan. Yg beda ya di tumpas, itu prinsipnya. Misalnya semua yg beda udah mereka tumpas semuanya. So what next?? Anehh.
Meskipun aku ga bisa berbuat banyak, atas serangkaian kejadian in. aku mnedapat kebersyukuran yang sangat dalam. Bahwa, aku kaya , aku ga takut dan aku ga bodoh, meskipun aku ga berpunya secara duniawi. Aku kaya karena aku muslim, aku ga takut karena keberadaan-Nya, dan aku ga bodoh karena ada Al-Quran. Jadi, cukup itulah modalku melawan mereka si kaum penindas. Bila aku telah mantap dgn apa yg kucari di dunia. Dan telah mantap bekal apa yang harus kubawa nanti setelah mati. Maka, tidak akan ada yang membuat aku jadi takut lagi, merasa miskin atau bodoh. Yakinlah, wahai yang tertindas, kita bersama-sama sudah tau hal itu. Itulah keberuntungan kita. Semua hal ini membuatku takjub atas ciptaan-Nya. Betapa mudah bagi Dia menunjukkan manusia yg sesat dan mana yang benar. Smoga aku, juga kamu dan semuanya adalah pencari kebenaran itu. Kebenaran yg hakiki.
-maaf terlalu byk typo error ya- abiss nulisnya agak emosi-
Posted by: Penulis on: Agustus 1, 2008
Beberapa hari ini aku lebih rajin membaca dibanding sebelum-sebelumnya. Soalnya, beberapa hari di setiap akhir bulan beban pekerjaanku rada berkurang. Itu karena data-data yang kubutuhkan untuk membuat analisa bisnis baru mulai keluar lagi di awal bulan berikutnya. Begitulah siklus job desc ku yang boleh dibilang membosankan sekaligus nyenengin karena saya diberi kebebasan untuk membuat format evaluasi bisnis menjadi lebih baik setiap bulannya.
Dari dulu aku emang udah suka buku, meskipun tak jarang buku yang kubeli dari toko atau kupinjam dari perpus akhirnya tak pernah kusentuh apalagi kubaca. Tapi yang jelas, im still love book. Seringkali buku-buku yang kubaca adalah referensi dari orang-orang yang aku kagumi. Apa yang mereka baca, maka akupun harus baca, ya setidaknya baca bagian belakang bukunya juga udah lumayan.
Sayangnya, aku bukan orang yang bisa baca buku apapun. aku masih milih-milih, hanya buku-buku yang sesuai minatku saja yang kubaca. atau hanya buku-buku yang relevan dengan studi dan job desc ku aja yg kupahami. karena kecenderungan tadi, aku disemprot papaku (si pembaca buku segala). katanya, jadilah pembaca buku apapun, bacalah meskipun kamu ga suka, bacalah semua walaupun itu tidak sesuai dengan background study dan hobby mu. Kenyataannya, setelah kamu baca semua, kamu akan temui jejaring diantaranya. bahwa, sebenarnya ilmu itu saling berkaitan.
Ga usah lah aku harus seperti apa yang papaku bilang. Karena, aku bukan orang yang suka dipaksa. Karena aku yakin tanpa dipaksapun aku akan berbuat sebaik yang aku bisa. Seperti halnya dalam kerjaan pun, terkadang agak kurang menyenangkan jadinya bila setiap waktu ditanyai progres dari setiap kerjaanku. Padahal, tak mungkin lah aku berlaku seenaknya. Karena aku berprinsip, harus bisa memberikan sesuatu yang bisa melebihi harapan orang lain. Itu pun harus sesuai dengan koridor yang aku suka, karena tak mungkin aku bisa memuaskan hati dan harapan semua orang.
Tapi, makin bertambah usia rasanya kemampuan bacaku makin menurun demikian halnya dengan daya ingatku. akhirnya, sekitar 10% yang bisa nyangkut di otak dari apa yg kubaca. selebihnya, ya lupa (hehe). Apalagi kini aku dah punya anak, jangan harap dirumah aku bisa santai-santai membaca buku. Boro-boro, mengurus diri sendiri aja rasanya tidak ada waktu. Beneran, sampai lupa kapan terakhir kali aku ke salon atau ke spa? (eh, emang belum pernah ke spa hehe. Kasian bgt sih gw).
Anyway, tadinya aku mau nulis resensi dari buku yang baru-baru ini aku baca. Tentunya masih berhubungan dengan kerjaanku. Tapi kok yang kutulis jadi begini ya? Lain kali aja kali ya. Anggap aja ini prolognya dulu. Yang penting hidup harus selalu semangat! Makanya, aku benci banget sama orang with many complain even itu teman hidupku sendiri. Kalo dah begitu aku jadi males, rasanya pengen pergi jauh. Sendiri. dan melupakan kalo aku dah jadi emak-emak beranak satu. Umm, jadi inget Agha. I love U, son!.
Posted by: Penulis on: Mei 5, 2008
Jum’at kemarin tanggal 2 Mei saya mengalami musibah. Bagi sebagian kecil atau mungkin banyak orang musibah ini sudah menjadi hal biasa. tapi bagiku, yang baru mengalami kejadian ini untuk pertama kalinya, menjadi tidak biasa rasanya. Apa coba? ke-copet-an. Gggrrrhhhh…duh rasanya ngenesss banget deh. ha-pe yg baru dibeli sekitar 3 bulanan lalu raib lah dibawa si copet. padahal disitu byk kenangan indah dengan anakku. setiap pertumbuhannya aku video-in. maklum lah namanya jg baru punya anak satu yg lagi lucu-lucunya. sediiih bgt deh rasanya. padahal hape itu kubeli dgn jerih payahku dengan harapan meskipun seharian aku dikantor. tapi aku bisa tetap tertawa melihat polah anakku di video yang kurekam. tak hanya itu, si pencopet juga sangat beruntung membawa kedua flash disk-ku yang berisi data-data penting dan sangat confidential. duuuh kenapa ya ada manusia setega itu??? Yang mengambil seenaknya padahal bukan hak miliknya, yang tega mendzalami orang seenaknya.
Tapi apa daya meng-ikhlas-kan lah cara yg terbaik untuk melupakannya. Tapi bukan berarti aku ikhlas hak milikku diambil si copet. tetap aku berharap dia memperoleh balasan yang setimpal. di dunia boleh dia tersenyum meyeringaiku karena kau bisa bebas sebebas-bebasnya. tapi di akhirat nanti, jangan coba-coba lari dari azab Allah.
Langkah lainnya yang harus dilakukan ketika kejadian ngenes ini terjadi adalah instropeksi. difikir2 mungkin inilah cara efektif Allah menegurku untuk menyuruh “Hey Sarah, kamu dah lama bgt gak sedekah-sedekah!!!”. Hiii…difikir2 emang sih, karena kadang aku tuh suka perhitungan banget kalo mo ngasih2. mmm, ikhlas sih ikhlas ya, cuman suka rada itung-itungan. Terima kasih Allah telah Kau tegur aku.
Ketiga, aku ngebandingin kejadian ngenes-ku ini dengan kejadian yang dialami org lain yg lebih parah. Temen-temenku ada yg berkali-kali di copet hape-nya, dijambret tas-nya, tapi mereka menceritakan itu dgn sgt enteng. Aku jadi salut sama mereka, dan disitulah aku mulai belajar bahwa:
Oh Ya!! apa yg kupunyai di dunia ini kan cuma titipan. suatu saat pasti diambil lagi sama yg punya. mungkin batas waktu penitipan hape itu padaku sudah jatuh tempo. dan kini beralih ke org lain. walaupun dengan cara tidak wajar dan ilegal. Dan kini aku isa ngebayangin perasaan kehilangan kayak gini bukan pada suatu benda. bukan hape. bukan dompet. bukan uang. tapi sama orang terdekat kita. whuiiihhh….speechless. aku gak bisa ngebayangin!
Terakhir, aku berdo’a: Ya Allah semoga Kau ganti apa yang telah Kau titipkan dan kini telah Kau ambil lagi dariku, dengan rezeki yang lebih berkah!!
Amin.
Posted by: Penulis on: April 11, 2008

mungkin bahasan ini udah basi bagi sebagian orang. tapi bagi yang baru menemukan jalan ini, rasanya menarik untuk disharing. tak ada kata terlambat karena semuanya punya alur hidup yg berbeda. termasuk aku.
udah banyak orang mengatakan bahwa sebenarnya kebahagiaan itu ada dalam diri kita. tapi nyatanya masih banyak orang termasuk saya sendiri yang masih menggantungkan kebahagiaan berdasarkan sesuatu yang diluar sana atau segala sesuatu yang berdasarkan kebendaan. merasa akan bahagia bila ‘mempunyai’ sesuatu atau kebahagiaan akan datang kala seseorang menjadi ‘milikku’.
nyatanya, namanya juga kehidupan. kadang harapan tak selalu sinergi dengan kenyataan. tatkala berbuah kekecewaan rasanya sakit banget. dan itu membuat aku ga bahagia. kenapa sih kok gajiku cuman segini doang sementara temen-temen deketku pada gede? ato kenapa sih jalan hidupku tidak mengantarkan dia menjadi pendampingku untuk selamanya? sungguh jadinya hidupku jauh dari bahagia.
begitulah padahal kalo difikirkan yang dalam sebenarnya kebahagiaan terletak pada bagaimana kita merespon situasi-situasi tadi. respon itu sendiri sangat tergantung dari pola fikir seseorang. karenanya, jangan sampai deh otak kita kekurangan referensi yang dibutuhkan untuk menghadapi persolan hidup seperti ini. kalo ngga bisa bahaya. rasa bahagia bisa dibuat sendiri.
Posted by: Penulis on: April 11, 2008
Udah lama ga posting-posting, kali ini ga tau kenapa hasrat ingin menulis tiba-tiba muncul. kali ini, beda dgn postingan sebelumnya. ga berat cuman pengen nulis aja. lagian, salah satu temanku menyuruhku untuk bisa menulis. pertama, nulis kalimat yang pendek-pendek (katanya). kedua, jangan gunakan kata-kata aneh yg bikin orang ga ngerti (kupikir lebih canggih kata-katanya lebih keren tulisannya,he..), trus ketiga lupa euy, tapi kayaknya smua org (apalagi yg suka posting di blog) dah tau benar tata cara menulis yang baik dan benar (ya gak?).
Beberapa hari yg lalu, sekarang juga masih sih. hidupku dikelilingi terus ama dua kata. yaitu ‘change management’. kenapa coba? karena peran diriku sbg periset majalah yang ditugasi untuk meriset tetek bengek ttg CM (singkatin aja ya), khususnya di perusahaan. cukup menarik sih kupikir, karena change atau berubah layaknya seperti sebuah kata yang selalu disebut-sebut dan ga da matinya. apa coba? ‘cinta’. (setuju ga?), hehe jadi ingat jaman dulu hobiku mengoleksi buku yang judulnya ada kata ‘cinta’-nya. dan tau apa yang terjadi? kalo dibeli semua mungkin gajiku sebulan juga masih belum cukup saking banyaknya. ada yang penasaran ga kenapa hobiku aneh begitu? (kalo penasaran tulis di coment aja ya). tentunya sajian ‘change’ yg bakal kuceritain sekarang beda bgt ama versinya SWA (tau majalah itu kan?). merasa tersentil aja ketika kata change disebut.
Posted by: Penulis on: April 11, 2008
Kita tak pernah tahu berapa lagi sisa hidup yang harus dijalani.
Namun kita tetap berharap masih disediakan waktu untuk menyelesaikan tanggung jawab yang masih terpikul di pundak. Selain untuk berbuat yang lebih baik dari apa yang telah kita perbuat.
Memang, tak terasa waktu sangat cepat berlalu.
Banyak dari impian kita yang hanyut tersapu gelombang kehidupan, tetapi selalu diantaranya masih ada yang bisa kita nikmati.
Karena memang kayaknya tidak setiap impian bisa menjadi kenyataan.
Adapun yang menjelma itulah anugrah yang diberikan pemilik kehidupan.
Tentu harus disyukuri sekalipun dalam hal ini kita seringkali tak pandai.
Hidup memang benar sebuah misteri. Kita tak pernah tahu pasti apa yang akan terjadi esok hari.
Pengalaman, pendidikan, yang kita pelajari rasanya tak pernah cukup untuk menghadapinya.
Posted by: Penulis on: April 11, 2008
Saya suka banget deh ama cerita Plato ini, isinya tentang cinta dan perkawinan. Mungkin dah pada tau juga kali yah dengan ceritanya, tapi ga da salahnya kali ya kalo saya sharing, hehe…Gini ceritanya…
Satu hari, Plato bertanya pada gurunya, “Eh, Guru cinta itu apa siyy? Bagaimana saya bisa menemukannya?
Gurunya menjawab, “Hmmm, begini deh…lihatlah ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta” Lalu Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.
Gurunya bertanya, “Loh kok?? Mengapa kamu tidak membawa satu ranting pun?”
Plato menjawab, “Habisnya…aku kan hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik), sebenarnya sih tadi aku udah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya”